More
    Rabu 7 Desember 2022

    Jadi Tersangka, Pemilik Pabrik Perusak Ginjal di Tapos Depok Kabur

    Must Read

    RBG.id, DEPOK — Pemilik pabrik CV Samudera Chemical (SV) berinisial E ditetapkan sebagai tersangka, Rabu (23/11). Penetapan itu menyusul atas kasus gagal ginjal akut yang menewaskan ratusan anak, yang diolah di pabriknya di Jalan Damai RT2/13, Kelurahan Tapos, Kecamatan Tapos, Kota Depok.

    Direktur Tindak Pidana Tertentu (Dirtipidter) Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri, Brigjen Pipit Rismanto menegaskan, pemilik CV Samudera Chemical berinisial E sebagai tersangka kasus gagal ginjal akut.

    CV Samudera Chemical merupakan perusahaan pemasok bahan pelarut obat sirup, yakni propilen glikol (PG).

    “Kan (pemilik CV Samudera Chemical) sudah ditersangkakan,” kata Pipit.

    PG dari perusahaan CV Samudera Chemical dikirimkan ke sejumlah produsen perusahaan obat sirup anak. Namun, kandungan PG produksi dari CV Samudera Chemical mengandung bahan kimia berbahaya etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) yang melebihi batas aman.

    Cemaran EG dan DEG yang berlebihan itu yang mengakibatkan kasus gagal ginjal akut pada anak.

    Pipit menjelaskan bahwa penetapan tersangka terhadap E sejak kasus di CV Samudera Chemical naik ke tahap penyidikan. Pipit menyebut bahwa E secara formil sudah memenuhi kriteria sebagai tersangka.

    “Iya secara formil nya kan sudah ada terjadi dia sudah, tinggal kita melengkapi alat bukti,” kata Pipit.

    Menurutnya, saat ini penyidik sedang mendalami barang bukti serta mencari keberadaan E. Pasalnya, tersangka E sudah dua kali tidak memenuhi panggilan penyidik Polri.

    “Ya penyidik kan sedang melakukan penyelidikan keberadaan saudara E. Emang enggak mudah. Penyidiknya juga belum pernah ketemu belum pernah kenal,” ujar Pipit.

    Terpisah, salah satu warga setempat menjadi tetangga pabrik di RT2/13 Kelurahan Tapos, Ainih menjelaskan, sejak digeruduk polisi aktifitas di pabrik sudah terlihat sama sekali. Bahkan para pekerja yang biasanya pesan makan dan kopi sudah tidak tampak lagi.

    “Ibu nggak kenal sama sekali sama orang-orang pabriknya. Cuma tau muka aja, karena biasa beli kopi dan makan di warung sini,” ungkapnya saat dikonfirmasi Harian Radar Depok (grup RBG.id), Rabu (23/11).

    Menurutnya, keberadaan pabrik dilokasi tersebut belum berjalan lama, sebab penghuni pabrik tidak dikenal warga setempat. Sehingga tidak ada yang mengetahui secara lengkap asal muasal pabrik dan penghuni yang menjaga.

    Disampaikan Ainih, penghuni yang setiap hari beraktiftias sama sekali terlihat sang pemilik atau pengelola. Pasalnya seluruh penghuni penampilannya tidak menampakan kemewahan, seperti tidak menggunakan mobil, menggunakan celana panjang, dan lainnya.

    “Tidak tau pemiliknya siapa, cuma ada yang jaga-jaga aja. Tapi kalau pemiliknya, kayanya tidak pernah ada disini,” terangnya.

    Ainih memastikan, seluruh pegawai pabrik yang beraktifitas selama setahun di lokasi tersebut bukan dari warga setempat. Hal ini karena wajahnya tidak dikenali masyarakat Jalan Damai, Kecamatan Tapos.

    Selama pabrik tersebut beraktifitas, kata Ainih, sejumlah pekerja pabrik yang berjumlah lima sampai enam orang tersebut tidak kerap berinteraksi, ataupun memperkenalkan diri kepada warga setempat. “Makanya jadi ibu nggak kenal sama sekali,” ungkapnya.

    Tak hanya Ainih, tetangga sebelah kanan pabrik yang enggan menyebutkan namanya, juga mengatakan hal serupa. Aktifitas pabrik sama sekali tidak diketahui, apalagi para penghuninya yang bekerja.

    “Sama sekali saya tidak tau nama-namanya, apalagi rumahnya semua. Yang saya tau Cuma ada pabrik kecil-kecilan di sebelah rumah. Sebatas itu saja,” bebernya.

    Pantauan Radar Depok, ada tiga titik yang dijadikan lokasi penyimpanan drum-drum yang diduga cairan yang mengandung campuran obat sirup. Pertama terletak di bangunan utama yang digaris polisi, kedua berada di belakang rumah utama tapi terlihat secara jelas dari akses jalan warga.

    Titik berikutnya, ada di lapangan yang jarakanya hanya 50 meter dari pabrik rumah utama, tapi drum-drum yang berada di lapangan sepak bola tersebut tidak di garis polisi, sehingga masyarakat dengan leluasa bisa mengecek drum-drum tersebut. (arn/rd)

    Reporter: Arnet Kelmanutu
    Editor: M. Agung
    Sumber: Radar Depok

    Terbaru