More
    Rabu 7 Desember 2022

    Pengungsi Korban Gempa Cianjur Kelimpungan Diguyur Hujan

    Must Read

    RBG.ID-CIANJUR, Derita para pengungsi korban gempa Cianjur seperti tak ada henti. Deretan masalah kian bertambah parah.

    Rumah yang menjadi tempat mereka bernaung dari panas dan hujan kini sudah rata dengan tanah. Ambruk, jebol, luluh lantak menjadi kata yang menggambarkan keadaan tempat tinggal mereka akibat guncangan gempa.

    Keluarga-keluarga itu kini tidur di luar rumah yang dingin dan tak berdinding. Terpal dan plastik lebar jadi tempatnya berlindung. Alas tipis jadi pemisah tubuh dengan tanah.

    Baca Juga: Selamat dari Gempa Cianjur, Ini yang Dilakukan Adik Dinar Candy

    Kondisi ini memang jauh dari kata layak. Atap mereka sekarang tidak bisa menahan panasnya cahaya matahari. Gubuk tak berdinding itu juga tentu tak mampu menahan tubuh mereka dari terpaan angin kencang.

    Belum selesai derita itu usai, kini masalah baru menderu. Hujan yang sebelumnya tidak turun justru turun deras. Tenda-tenda diterjang derasnya hujan.

    Seperti yang terjadi pada pengungsi di Kampung Jenggung, Desa Benjot, Kecamatan Cugenang pada Rabu (23/11/2022). Mereka kelimpungan mengamankan barang-barangnya yang tersisa. Tumpukan pakaian dan bahan makanan sibuk diangkat agar tidak kebasahan.

    Baca Juga: Kisah Korban Gempa Cianjur, Empat Santri Tewas Tertimpa Bangunan saat Mengaji  

    Seluruh barang ditumpuk di tengah tenda menghindari cipratan air dari luar. Baskom-baskom berisi kain ditadahkan mewadahi air dari bocoran tenda.

    “Laailaahailallah Muhammadarrasulullah” untaian selawat tak henti dilantunkan para pengungsi mengiringi gemericik hujan. Mereka memohon perlindungan Sang Maha Kuasa.

    Kesedihan turut dirasakan Sri Wulandari (28). Di usia 5 bulan kehamilannya harus diwarnai dengan masa-masa sulit.

    Dia bersama pengungsi lainnya termenung berharap hujan cepat mereda. “Sudah keadaan sulit, ditambah hujan. Sedih banget rasanya. Semua jadi basah karena tenda bocor. Panas saja susah, ditambah hujan jadi tambah susah,” keluhnya.

    Hujan yang semakin deras membuat atap tenda mereka menggembung. Usaha-usaha ringan dilakukan mengantisipasi tenda jebol. Sebuah tongkat dipakai untuk mendorong genangan air di atas tenda.

    Berulang kali dilakukan, semakin lama semakin sering karena semakin banyaknya hujan yang mengguyur. “Kami semua ingin ujian ini cepat berlalu. Semuanya jadi serba susah,” ucap Sri sembari menitikan air mata.

    Sri berharap adanya bantuan tempat tinggal ataupun setidaknya tenda yang lebih layak untuk keluarganya. Sebab tenda berukuran 4×5 yang ditempatinya kini sudah tidak muat lagi disesaki 12 keluarga. (cr1)

    Terbaru